Tuesday, March 31, 2009

Anakku Masuk Semifinal Olimpiade Sains Kuark Level 1




7 Februari 2009 silam sekian ratus anak dari beberapa SD ikut lomba Olimpiade Sains Kuark untuk wilayah lomba Kutai Timur di sekolah yang kami kelola. Penyelenggara Olimpiade Sains Kuark adalah Penerbit Majalah Komik Sains Kuark, Gramedia, yang diketuai oleh Prof. Dr. Yohanes Surya, bekerja sama dengan Bimbel Primagama. Dari sekian ratus peserta lomba yang terbagi dalam tiga level, level 1 untuk kelas 1 -2 SD, level 2 untuk kelas 3 - 4 SD, dan level 3 untuk kelas 5 - 6 SD; peserta dari sekolah kami banyak yang lolos ke semifinal (Lihat di: www.komikuark.net). Di antara mereka salah satunya adalah anakku yang masih kelas 1 SD, Saniya Nisa Auliya Karim.

Penyelenggaraan lomba, mulai pembuatan soal, pengawasan lomba, dan penskoran nilai adalah sepenuhnya dilakukan oleh manajemen Kuark dibantu Bimbel Primagama dengan teknik komputerisasi. Lomba ini bersifat nasional dan serentak dilakukan di seluruh propinsi Indonesia.

Pada pertengahan April nanti babak semifinal Olimpiade Sains Kuark bila tidak ada halangan akan segera diselenggarakan untuk mendapatkan para finalis. Tahun kemarin sekolah kami dapat mengirimkan 3 finalis untuk berlomba di Jakarta, meskipun belum sampai menjadi juara. Mudah-mudahan dengan pengalaman yang ada dan persipan yang memadai anak-anak kami banyak yang masuk sebagai finalis dan meraih yang terbaik.

Khusus untuk anak kami, di rumah kami mengajaknya belajar dan berdiskusi tentang beragam fenomena alam dan mahluk hidup. Selain itu, kami memanfaatkan majalah komik sains Kuark sebagai salah satu referensi dan beberapa soal latihan. Alhamdulillah, anak kami tidak sekedar tahu dan hafal tentang suatu hal, tapi ia pun dapat menganalisa, mensintesa, menafsirkan, dan menympulkan dari beragam permasalahan mengenai sains sehingga jawaban yang dibuat tidak karena "katanya".

Selain di rumah, anak kami juga dibimbing oleh guru di sekolah dalam mempelajari sains. Mudah-mudahan ia akan mudah menganalisis soal atau permasalahan sains yang ada sehingga menjadi peserta yang terbaik. Semoga.

Monday, March 30, 2009

Anak Lakilakiku Mau Tampil di TV




Saat ini anak kami yang kedua, lakilaki usia 3,10 tahun, sedang ikut main di Play Group Al-Mawadah, di kompleks Griya Prima Lestari, Sengata, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kebetulan play groupnya mendapat kesempatan tampil di stasiun televisi lokal dalam acara Pelangi Anak-anak. Maka dari sekian anak, anak kami tampil untuk menyanyi sambil menari dan membaca sebuah doa.

Di play gruop anak-anak dilatih oleh pendampingnya yang dipimpin Ibu Bahria. Ada yang berlatih menari, menyanyi, baca puisi, baca doa, dan beberapa tepuk tangan. Anak-anak terlihat begitu senang dengan latihan ini.

Untuk tampil anak-anak dianjurkan untuk mengenakan pakaian daerah (pakaian adat). Ada pakaian dari Banjar, Bugis, Padang, Dayak, Kutai, Mandar, Makassar, dan ada pakaian profesi, seperti pakaian tentara atau polisi. Untuk persiapan anak kami tampil, kami sudah bertanya-tanya siapa yang punya pakaian daerah. Alhamdulillah, di TK yang kami kelola ternyata memiliki beberapa koleksi pakaian daerah mengingat setiap tahun kami sering mengadakan beberapa kegiatan yang mengharuskan anak-anak mengenakan pakaian daerah.

Anak kami bersama play groupnya akan di shoot oleh pihak TV KUTIM (Televisi Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Timur) Senin, 6 April 2009. Tentu selaku orang tua tidak mau ketinggalan untuk menyukseskan acara tersebut. Di antara kami ada yang mempersiapkan beberapa makanan, snack, minuman, dll. Ya, mudah-mudahan semuanya lancar.

Tuesday, February 24, 2009

Anakku Berusia 7 Tahun

Banyak orang berkata pada kami, "Nda terasa, ya, anakmu sudah besar." Mendapati ungkapan tersebut kami hanya senyum-senyum saja. Ya..., harus bagaimana lagi? Padahal dalam membesarkan, merawat, menjaga, dan menemani dia banyak yang harus kami lakukan. Apalagi kalau sedang sakit. Bermalam-malam kami harus gantian menjaga dan memberikan obat untuknya agar lekas sembuh. Tapi..., ya..., itu dinamika sebuah kehidupan sebuah keluarga, lebih-lebih dinamika kehidupan orang tua. Untuk itu semua adalah hal yang dapat dimahfumi.

Anak kami yang pertama lahir di RS PKT Bontang, Selasa, 26 Februari 2002 dengan proses kelahiran normal. Kami dikarunia anak setelah sebelas bulan dari hari pernikahan. Sungguh kami merasa khawatir, sudah sebelas bulan belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Kami pun akhirnya melakukan konsultasi kepada dokter kandungan. Dari hasil pemeriksaan ternyata kami sehat dan normal-normal saja. Namun untuk lebih lanjut saya disarankan untuk check sperm. Dari hasil ini saya mendapatkan terapi agar kualitas sperm menjadi baik. Dan, akhirnya kami mendapatkan sesuatu yang menggembirakan. Istriku terlambat haid dan setelah dicheck dengan menggunakan stik tes kehamilan, positif hamil. Agar lebih yakin, kami pergi ke klinik untuk check up. Hasilnya... puooositif. Kami sangat bersyukur dengan anugrah ini.

Karena kami masih di camp perusahaan, sambil sedang membangun rumah, asupan gizi sangat baik. Mau sayuran, buah-buahan, susu, dan lainnya begitu tersedia sehingga kami tidak begitu riskan dengan perkembangan janin kami. Alhamdulillah, setelah 9 bulanan anak yang kami tunggu-tunggu lahir dengan normal dan sehat. Dan, sekarang anak kami sudah masuk usia 7 tahun.

Alhamdulillah, anak kami mendapatkan anugrah intelektual yang bagus, keterampilan yang baik, dan perkembangan emosi yang kuat. Dalam mempelajari sesuatu anak kami dimudahkan oleh Allah sehingga cepat menguasainya. Misalnya, belajar membaca dia sudah bisa saat mau masuk TK. Berenang sudah bisa saat usia masih 2 tahunan. Belajar bahasa Inggris cepat memahaminya. Menyanyi, menulis cerita, dan membuat sebuah keterampilan dia begitu baik. Dalam hal agama pun dia dimudahkan untuk mempelajari beberapa doa, menguasai doa-doa atau bacaan shalat, dan membaca - menulis Al-Qur'an. Sungguh ini keseluruhan karunia dan anugrah Allah yang kami dapati dengan begitu manisnya.

Di usianya yang baru 7 tahun kami sangat mengharapkan semoga ia menjadi anak yang selalu sehat, baik, ceria, dan dimudahkan dalam segala urusan oleh Allah sehingga bisa membuat masyarakat lebih baik oleh jasa-jasa, ibadah, dan amal jariahnya. Amin.

Selamat ulang tahun anakku. Semoga Allah senantiasa membimbingmu dalam ilmu dan kebenaran. Amin, amin, ya, robbal alamin.

Membuat Majalah Sekolah


Membuat majalah sekolah merupakan hal yang sangat menantang. Dalam hal ini hanya saya yang 'hunting' news, menuliskan transkripsi, membuat lay out, dan berurusan dengan pihak printing sampai kepada distribusi majalah.

Kelihatannya sesuatu yang sederhana. Tidak repot. Tidak perlu banyak pikir. Tidak perlu njlimet. Cukup ikuti kegiatan di sekolah, amati, wawancarai narasumber, dan tulis di kertas. Lalu, ketik di komputer. Setelah sekian berita didapat kemudian diimport ke halaman lay out malajah. Jadi, deh, itu draft majalah.

Akan tetapi, ternyata untuk dapat mewujudkan sebuah majalah yang sederhana sekali pun harus ada segudang kreatif. Amati kejadian atau acara. Ambil photo dengan 'angle' yang bagus. Sampai utak-atik desain, sangat memerlukan perhatian dan sebuah kecakapan akan tool software komputer tertentu. Misalnya, software Adobe Photoshop, Page Maker, Corel Draw, dan Indesign serta PDF. Wuih..., perlu kecakapan yang baik.

Begitu pun dalam pemilihan desain majalah yang menyangkut tipografi huruf, warna, sampai tataletak photo dan teks sangat menguras waktu dan energi. Belum lagi memikirkan contens apa saja yang akan dipublish. Maka, harus baca ini - itu ke perpus atau browsing di internet. Ya..., sebuah kenikmatan sendiri manakala referens yang diperlukan didapat sebagai bahan landasan teori suatu artikel. Maka, di sini pun memerlukan sebuah keterampilan dalam meracik beragam pendapat dan beragam teori dalam satu sajian artikel.

Kepuasan yang lain manakala contens yang diangkat cukup mendapat perhatian dari para pembaca. Apakah itu dalam bentuk pujian, kritik, saran, bantahan, atau keberatan. Dalam hal ini berarti 'dunia saya' tidak menjadi suwung. Ada mahluk lain yang turut terlibat. Dan, inilah yang menjadikan dunia membuat majalah begitu menantang. Untuk itu semua saya terus meningkatkan kemampuan saya dengan membaca, browsing, bertanya, berlatih, dan terus utak - atik.

Inilah 'dunia saya' sekarang, selain bertugas sebagai seorang guru untuk menjadi teman anak-anak di kelas dalam mempelajari sesuatu.

Wednesday, February 18, 2009

Menabung, Memberikan Pendidikan Berhemat pada anak


Sepertinya apa pun yang kita lakukan harus ditunjang dengan dana atau uang. Ini adalah sebuah konsekuensi yang logis. Di mana ada demand, maka di situ ada capital. Misalnya, manakala belanja kita perlu dana. Begitu pun bila mau bepergian, membuat rumah, atau menyekolahkan anak.

Dalam hal menyekolahkan anak kita sangat memerlukan dana atau uang. Untuk membeli alat tulis, seragam, bayar sumbangan pendidikan, iuran ini - itu. Atau, ikut kegiatan arisan di lingkungan RT. Semuanya harus di-cover dengan dana. Mustahil akan berjalan dengan baik bila dana terbatas atau minim sama sekali.

Oleh karena itu, adalah sangat penting bila anak dilibatkan dalam hal ini. Bukan tentang penyediaan dananya, melainkan anak dilibatkan untuk mengetahui dan memahami bahwa untuk bisa memperoleh sesuatu atau sekolah perlu biaya (uang). Tentunya dalam melibatkan anak dalam masalah ini, harus menggunakan bahasa yang sederhana.

Keterlibatan anak terletak pada bahwa untuk mendapatkan sesuatu adanya sebuah usaha. Yakni, usaha dalam mendapatkan uang tersebut sehingga bisa memperoleh apa yang diperlukan. Bentuk keterlibatan anak, salah satunya, bisa diwujudkan pada sebuah sikap hemat dalam membelanjakan uang.

Anak perlu mendapat sebuah pendidikan bahwa berhemat adalah sebuah kegiatan yang baik dalam mencapai atau mendapat sesuatu yang diinginkan. Maka, adalah hal sangat beralasan bila dalam memberikan uang jajan anak perlu diingatkan dalam menyisihkan sebagian uang belanjanya. Dengan demikian, dalam rentang waktu sekian anak bisa mempunyai dana atau biaya dalam mendapatkan keinginan atau kebutuhannya. Oleh karena itu, orang tua bisa menyediakan alat, misalnya kaleng bekas, untuk alat menabung yang paling sederhana. Dalam bentuk lain adalah orang tua membukakan rekening di bank dengan atas nama anak sendiri.

Menyisihakan uang atau sikap berhemat bisa diwujudkan dalam bentuk menabung. Kebetulan di sekolah kami, melalui sebuah koperasi karyawan, telah dibuka 'Bank Mini'. Bank mini tersebut menjadi wadah dalam membangun sikap hemat dan berencana dalam membiayai sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Anak dalam hal ini tidak diajarkan secara instan mendapat uang dari orang tua. Anak dengan uangnya sedikit demi sedikit ditabungkan di bank mini sekolah kami.

Inilah mengapa koperasi karyawan kami membuka bank mini dan melayani anak-anak dalam menumbuhkan sikap hemat dan berencana.

Wednesday, January 28, 2009

Mau Jadi Apa kalau Besar Nanti, Nak?


Kerap sekali kita menyaksikan ibu-ibu, bapak-bapak, atau orang dewasa ketika bercakap-cakap dengan seorang anak terselip pertanyaan: "Kalau besar nanti mau jadi apa?". Maka, dengan tegasnya anak tersebut menjawab: "Jadi pilot,". Atau, menyebutkan profesi-profesi orang dewasa lainnya yang memiliki kesan 'wah' dan gengsi.

Kita pun masih ingat saat ditanya hal demikian ketika kita masih anak-anak. Secara otomatis jawaban kita sepertinya sudah diplot. Yakni, menyebut profesi-profesi orang dewasa yang memiliki nilai gengsi meskipun pada saat itu kita tidak tahu benar dengan profesi tersebut. Dan, jawaban serta angan-angan itu tersimpan dalam memori kita seiring usia yag semakin bertambah.

Akan tetapi, saat kita sudah lebih banyak berkenalan dengan dunia, jawaban yang kita buat di saat usia kita masih belia dahulu, semakin lama semakin bias. Ternyata banyak alternatif-alternatif yang tersedia di luar sana. Dan, untuk menggapai itu semua memerlukan sebuah upaya yang tidak mudah. Bahkan, tidak sedikit modal yang diperlukan.

Ada keinginan yang tercapai sesuai dengan cita-cita kita dahulu. Namun tidak sedikit orang-orang akhirnya menjauh dari profesi yang dicita-citakan pada masa dahulu. Entah karena 1001 alasan yang menghadangnya atau yang menyebabkan dia harus menjauh dari yang dicita-citakannya. Walaupun demikian halnya itu wajar-wajar saja. Mengingat pada saat kita ditanya tentang cita-cita, saat itu kita belum mengetahui bagaimana abtraksi sebuah cita-cita dan untuk apa seseorang harus memilih cita-cita atau profesi.

Kaitannya antara cita-cita dengan anak adalah sangat penting. Hal ini berguna untuk membangun motivasi, mandiri, kreativitas, dan rasa percaya diri anak. Dengan itu anak akan menjadi optimis dalam hidupnya. Adalah di sisi lain dan itu tidak penting, bila dalam kenyataannya cita-citanya itu akan persis tercapai atau berbeda dengan kenyataannya saat ia besar nanti.

Sungguh sangat disayangkan dan fatal bila seorang anak dalam perjalanan hidupnya tidak meiliki cita-cita. Sehingga, ia tidak sejak dini membangun harapan-harapannya itu untuk diperjuangkan. Dengan begitu ia hidup bagaikan awan yang tersapu angin. Ke mana arah mendorong, maka ia pun mengikuti dorongan itu padahal belum tentu ia sesuai dan bisa untuk ke arah sana.

Tugas orangtua dalam hal ini adalah sebatas ikut membangun harapan-harapannya dan menjelaskan apa-apa saja profesi atau cita-cita itu. Seiring dengan perkembangan usianya kita pun bisa berdiskusi untuk menjelaskan apa dan bagaimana profesi-profesi atau cita-cita itu. Kita tidak harus langsung menunjukkan harus begini atau harus begitu. Sebaliknya, kita pun tidak harus mengatakan bahwa cita-cita atau profesi yang ini jelek sedangkan yang lain bagus. Biarlah anak membawa cita-citanya sendiri. Sekali lagi tugas kita hanya membangun, menyokong, dan ini yang tidak kalah penting membiaayai atas pencapaian cita-cita atau profesi yang diangankannya.

Antara Imaji dan Kreativitas


Boleh jadi Anda penggemar film Star-Trex, Starwars, Harry Potter, Lords of The Ring, atau Superman atau... film lainnya. Tentunya, film-film tersebut diangkat dari sebuah cerita yang dibuat oleh seorang penulis (author). Nah, dari sekian cerita yang dibuat oleh penulis, tidak pernah lepas dari dunia imajinasi. Dengan imajinasi yang dimilikinya, penulis dapat membuat dunia lain yang kemudian dapat dihadirkan kepada para pembaca atau para penonton bila sudah dibuatkan filmnya.

Dalam hal ini manusia tidak bisa lepas dari imajinasi. Imajinasi telah berkembang sejak dini dalam diri manusia. Bahkan jauh sejak manusia dalam kandungan seorang ibu sekali pun imajinasi sudah muncul. Maka, tidak salah bila para psikolog menganjurkan kepada para ibu hamil untuk melakukan interaksi dengan 'calon' anaknya yang ada di rahim. Interaksi tersebut bisa berupa elusan, percakapan monolog, atau rangsangan suara musik yang lembut. Salah satu tujuan diupayakannya kegiatan ini adalah agar imajinasi 'calon' anak dimulai atau berkembang sejak awal.

Imajinasi akan selalu beriringan dengan kenyataan. Bahkan, bila kita ambil pendapat Plato, bahwa sebelum adanya kenyataan yang ada terlebih dahulu adalah ide. Ide dalam hal ini adalah bayangan atau keniscayaan. Bayangan atau keniscayaan dalam hal ini bersinonim dengan imajinasi. Hal ini dapat dikaitkan antara ide dengan penciptaan seseorang dalam kehidupan nyata.

Sebelum seseorang menciptakan atau membuat sesuatu, maka yang ada adalah bayangan atau ide sesuatu tersebut. Dari kontruksi ide yang ada di pikiran, maka manusia berusaha untuk mewujudkan idenya tersebut dengan berbuat atau melakukan sesuatu hal sehingga idenya menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan yang muncul bisa berupa wujud benda, perbuatan, kata-kata, atau bentuk lainnya.

Di sinilah hubungan antara imajinasi dengan kreativitas. Kreativitas akan muncul manakala seseorang dalam dirinya muncul ide-ide. Ide muncul bisa disebabkan oleh rangkaian imajinasi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah ide dan atau ciptaan seseorang menjadi sesuatu yang kreatif?

Sebuah ide atau ciptaan menjadi sesuatu yang kreatif bila memiliki ciri-ciri yang spesifik. Misalnya, apakah terbarukan? Berbeda dengan yang sudah ada? Bila ide itu sesuatu yang baru, artinya sebelumnya belum pernah ada; boleh jadi dapat dikategorikan sesuatu yang kreatif. Begitupun bila berbeda dengan lainnya.

Sebaliknya bila ide yang ada atau ciptaan yang ada kurang lebih sama dengan yang sudah ada atau tidak jauh berbeda dengan yang lain, untuk dikatakan sesuatu yang kreatif adalah hal yang kurang beralasan.

Jadi, berimajinasilah agar hidupmu menjadi kreatif, meskipun itu hanya ada di dalam alam pikiran kita.